Catatan Perjalanan, #MenyapaNegeriku – Kab. Berau, Kalimantan Timur

Khoirunnasi Waannfa’ahum Linnas

“Sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain”

Pegangan hidup yang akan selalu saya ingat sejak menimba ilmu di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang, Jawa Timur. Apapun itu, di manapun itu, dan kapan pun itu berusaha bisa menerapkan sebuah hadits yang sangat sederhana, namun melakukannya pun tidak mudah. Oleh karena itu, keikhlasan dan kesabaran pun juga diperlukan.
Bercita-cita untuk mengelilingi nusantara adalah salah satu keinginan yang sangat besar untuk diri saya, yang saat ini belum saya singgahi hanya Pulau Sulawesi dan Papua. Dan saat adanya pengumuman program seleksi #MenyapaNegeriku, merupakan kesempatan yang besar bagi saya untuk mewujudkan hal tersebut. Akan tetapi ada tanggung jawab yang besar yang harus bisa saya lakukan, tak hanya berkunjung dan jalan-jalan saja. Ya, melihat dan bisa berbagi langsung dengan adik-adik dan para guru di daerah 3T (Terpencil, Terluar dan Tertinggal). Menjadi seorang guru tidaklah mudah, apalagi bagi saya. Tetapi pasti ada cara bagaimana kita bisa bermanfaat bagi orang lain, dan saya selalu yakin dengan cara saya. Ya, selama ini saya berbagi pengalaman berbagi cerita melalui media visual baik foto maupun video. Mengenalkan kepada banyak orang akan sesuatu hal, sesuatu yang jarang orang temui, ilmu baru melalui media visual.
Awal ikut program #MenyapaNegeriku dengan mengirim form yang di unduh dari halaman DIKTI. Saya tau ini program ini pasti akan banyak peminat, karena banyak petualang atau traveler ingin mengikuti program ini. Rasa optimis saya tanamkan sejak awal dan saya kirimkan form dengan beberapa pertanyaan. 2 Halaman saja cukup untuk memaparkan apa yang sudah saya dapatkan dan apa yang saya ingin lakukan nantinya melalui program #MenyapaNegeriku. Mengikuti perkembangan dari #MenyapaNegeriku bahkan pendaftar mencapai 30ribu di beberapa media online, tidak membuat saya pesimis sedikit pun, karena saya percaya Allah pasti mendengarkan doa saya. Ya, dan itu pun benar tepat tgl 20 November 2015, dari pihak DIKTI menghubungi saya secara langsung via telepon, yap… saya akhirnya Lolos dengan 43 peserta lainnya. Alhamdulillah, selalu bersyukur atas nikmatMu ini, dan kesempatan yang tidak akan saya lewatkan nantinya. Dan saya pun terpilih untuk diberangkatkan ke Kab, Berau, Kalimantan Timur. Padahal pilihan pertama saya adalah Raja Ampat, Papua. Hehehe

Pengumuman Peserta #MenyapaNegeriku, dari 45 Ribu lebih Pendaftar Di Ambil Hanya 44 Peserta Saja
Awal dimulainya program ini adalah adanya pengenalan dan workshop dari DIKTI tentang program #MenyapaNegeriku pd tgl 29-30 November 2015, di Hotel Century, Senayan, Jakarta. Selama 2 Hari peserta dibekali oleh pengenalan dan beberapa workshop dari wanadri mengenal survival training dan tips kesehatan selama perjalanan nanti.
Sedikit pengenalan bahwa program #MenyapaNegeriku adalah program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI) dari Kemenristekdikti yang mana salah satunya sudah berjalan adalah program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terpencil, Terluar dan Tertinggal). Saat ini alumni guru-guru SM3T sudah mencapai 10ribu lebih, dan yang masih berjalan saat ini yaitu SM3T jilid 5yang berjumlah 3 ribu lebih dan tersebar di 54 Kabupaten di Indonesia. Guru-guru ini akan mengabdi selama setahun penuh di daerah 3T untuk menjadi pendidik dan penyayang bagi anak-anak di sana dan membantu menyiapkan tenaga pendidik bagi masyarakat di daerah 3T. Bukan hal yang mudah memang menjadi guru SM3T, ditempatkan di daerah yang sangat jauh dari fasilitas yang memadai dan beraadaptasi dengan adanya lingkungan baru, budaya baru dan adat isitiadat baru tentunya jauh dari keluarga. Program #MenyapaNegeriku ini mengajak masyarakat umum dari berbagai kalangan untuk ikut serta merasakan, berbagi inspirasi dan juga mengenalkan kepada publik bahwa ini loh ada para pendidik dan penyayang nan jauh di sana. Ini loh, “khoirunnasi waanfaahum linnas” yang seungguhnya.

Berfoto dengan Bapak M. Nasir – Menristek (Bawah Tiga Dari Kanan) dan Bpk Ali Ghufron Dirjen DIKTI (Bawah Empat Dari Kanan) Serta Bapak Agus Susilohadi (Salah Satu Founder dari SM3T)

Peserta Tim Kab Berau
Satu tim dengan 3 orang peserta lain yang tidak kalah hebat yang akan menuju ke lokasi Kab Berau yaitu, Lenny (Traveller Blogger), M Iqbal Tawakkal (Sang penulis komikstrip dan ahli sastra), dan Kak Tedi Kartino (Sang Pendongeng Nasional). Tim Kab. Berau ini di dampingi oleh alumni guru SM3T tahun 2014 yakni Ms. Erniewati Silitonga yang ditempatkan di SMPN 6 Berau tahun lalu. Dan juga 2 orang peninjau yakni Bapak Samto (Kemendikbud) dan Mbak Zubaidah (Perawat). Serta seorang pendamping dari DIKTI yakni Mas Malvin. Sungguh tim yang sangat lengkap dan solid dengan berbagai profesi dan siap menyapa di Kab. Berau.
Bertolak ke Kab Berau pada 1 Desember 2015 Pagi Hari, pukul 05.35 sudah take off menuju Balikpapan terlebih dahulu, Dan dilanjut Penerbangan ke Berau. Tiba Pukul 12.05 WITA di Bandara Kalimarau, Kab Berau. Kota kecil dengan hasil tambang batu bara dan kelapa sawit ini memiliki bandara yang baru, disamping itu kota ini merupakan destinasi wisata internasional yakni Pulau Derawan.

#Day1

Tiba Di Bandara Kalimarau, Kab Berau, Kalimantan Timur
Hari pertama di Bumi Tawakkal (sebutan Kab Berau) yakni mengunjungi Pasar Tradisional Adji DIlayas. Pasar ini merupakan pasar tradisional dengan predikat sangat baik se Indonesia loh. Beh.. Beh.. Beh.. Pasar yang dibilang sangat rapi, bersih, luas, tata letak nya juga bagus, dan memang pantas sih sekelas pasar tradisional dengan predikat sangat terbaik. Di berau tidaka akan anda temui persaingan antara si biru dan si merah (sebut Saja Indo**Mart dan Alfa**Mart) minimarket ter-mainstream yang anda jumpai di manapun tempatnya bahkan tersedia di RT-RT di seluruh pelosok di pulau Jawa. Di Berau, pasar tradisional, koperasi dan swalayan masyarakat masih sangat menonjol. Karena masyarakat sini sangat ingin betul memajukan ekonomi melalu UKM.

Aktifitas Pasar Sanggam Adji Dilayas, Tanjung Redeb, Kab Berau

Kondisi Pasar yang bersih

Aktifitas bongkar muat masih di lingkungan Pasar Sanggam Adji Dilayas
Setelah itu perjalanan berlanjut ke salah satu gedung di belakang Masjid Agung Kab Berau, untuk berbagi kepada guru-guru PAUD di Berau. Disitulah aksi pertama kami (sebenarnya sih Aksi kak Tedi dengan Bunda-bunda PAUD) hehe. Mengajarkan bagaiman cara mendongeng kepada anak-anak yang baik. Hingga kumandang adzan, mampirlah kita ke Majid Agung Berau yang sangat Megah. Sekelas Kabupaten memiliki Masjid yang sangat besar dan sangat megah merupakan hal yang sangat wah sekali, jarang sekali di pulau Jawa, Kabuoaten yang memiliki Masjid yang sangat Besar. Setelah itu kami makan malam dan bermalam di salah satu wisma, sebelum kegiatan besok menuju Tanjung Batu Kab. Berau.

Berbagi cara mendongeng yang baik dengan Bunda-bunda PAUD Kab Berau

Masjid Agung Baitul Hikmah

Interior Masjid Baitul Hikmah

#Day2

Sebelum menuju Kec Tanjung Batu, kami berkunjung ke Dinas Pendidikan Kab Berau (Istilahnya Kulo Nuwun Sek) Hehehe. Mohon Izin dan Doa Restu untuk melaksanakan program #MenyapaNegeriku di Kab Berau Ini. After that (Keminggris), masih sempat untuk berbagi dan inspirasi ke bunda-bunda PAUD dan IGTK sek Kab Berau. Bertempat di Ged Dharma Wanita, sekitar 250 bunda-bunda siap menyambut kedatangan kami. Dan tiba di lokasi, langsung lah Kak Tedi beraksi, sungguh semangat sekali aksinya di depan bunda-bunda ini. Wkwkw. 15 Menit beraksi, kami pamit dan siap melanjutkan perjalanan. Eits, sebelum memulai perjalanan kami diajak oleh pak mujiono dan pak mustaring (Kepala Sekolah SMPN 6 Berau) yang kebetulan juga sebagai pemandu kami ke wisata sejarah yakni ke Keraton Sambaliung dan Keraton gunung batur. Dulunya di berau ini ada 2 kerajaan gaess, yakni kerajaan Sambaliung dan Gunung Tabur. Nah yang unik di keraton gunung tabur masih ada dan hidup salah satu pewaris dari kerajaan gunung tabur yang mana ada 2 orang yakni masih berumur 99 tahun dan 103 tahun. Wawwww, dan 2 orang tersebut adalah permpuan dan salah satunya pernah masuk media National Geographic Indonesia.

Yihaaaa… Di Depan Keraton Sambaliung

Berpose di Depan Sungai Segah, Tanjung Redeb, Kab. Berau

Keraton Gunung Tabur, Kab Berau

Lambang Kerajaan Gunung Tabur
Sampai Juga Di Kecamatan Tanjung Batu
Setelah mengenal sejarah di 2 keraton tersebut, meluncurlah kita ke Kec. Tanjung Batu. Perjalanan via darat ditempuh kurang lebih 2,5 Jam. Dan Akhirnya sampailah kita di kecamatan Tanjung Batu. Selama di Tanjung Batu kami menginap di rumah warga, dan kebetulan salah satu keluarga tersebut adalah murid dari SMPN6 Berau dan murid dari Ms Ernie. Di tempat kami tinggal ada Kakek Nenek dan Sebuah keluarga Bapak Ibu dengan 4 Orang Anak. Kami takut kedatangan kami malah mempersulit keluarga mereka. Tapi….. saat datang di rumah tersebut, mereka sudah menyiapkan segala sesuatunya dan satu kamar yang sudah tertata rapi. Rumah yang kami tinggali langsung berada di pinggir pantai. Dibelakang rumah puun terdapat dermaga kayu yang langsung menghadap ke pantai. Huwikk Emboittssss….

Rumah Tinggal Kami Selama Di Tanjung Batu

Saat Menjelang Malam, Listrik Belum Menyala
Setelah menaruh barang dan sembari berkenalan dengan pihak rumah. Malam hari kami kebetulan di undang (lagi-lagi gaesss bunda PAUD). Ya, mereka sudah berkomunikasi dengan kak Tedi untuk bisa berkunjung ke PAUD mereka yakni PAUD Bintang Kecil. Tak jauh dari rumah singgah kmi berjalanlah menuju PAUD, dan….. disambut bunda-bunda PAUD yang sudah bersolek dan menyambut kitta. Ahahahay…. Sedikit Curhat dan Ngobrol soal PAUD mereka dan kami pun di jamu dengan makanan dan minuman di sini menariknya bagi kami ada minuman yang sangat enak dank has, dan namanya es rahasia (karena itu masih misteri bagi kami) hehe. Setelah itu kami berpamitan pulang… Berisitirahat… Karena Esok Hari… Aksi Kami masih Berlanjut (bersama bunda-bunda PAUD lagi)… Hehehe

Dijamu oleh Bunda PAUD Bintang Kecil

Bareng Bunda-Bunda PAUD yang kece-kece hehe

#Day3

Sunrise yang mempesona di Tanjung Batu

Subhanallah… Foto by Tripod 🙂
Dibuka oleh sunrise yang sangat mempesona di dermaga Tanjung Batu, warna lukisan langit yang sangat jarang dijumpai di kota-kota. Semangat pagi itu sangat berasa dan gak sabar lah bertemu dengan adik-adik di tanjung batu. Setelah sarapan, kami beranjak di salah satu balai desa dan juga sebagai gedung olahraga badminton. Di situ akan berkumpul anak-anak dari 3 PAUD dan 1 TK se kec Tanjung Batu (dan juga tak lupa bunda-bunda PAUD) ahahaha… Sembari menyiapkan arena dongeng dan menata ruangan yang sangat seadanya, kami sempatkan bermain dengan anak-anak yang sudah dahulu datang dan diantar dengan orang tua. Hingga dimulailah aksi Kak tedi dengan dongeng “Terumbu Karang”. Oh… Alangkah indahnya, jika di dunia ini hanya ada dunia anak kecil, tanpa ikut campur dunia orang-orang dewasa yang selalu ruwet, mumet, njlimet dan bikin gak slamet. Betapa senangnya anak-anak kecil ini mengikuti dongeng yang sangat sederhana dan syarat akan makna. Mengajarkan bahwa sedari kecil untuk bisa menjaga keindahan bawah laut tanpa merusak habitatnya.

Mulai berdatangan saya pun langsung beraksi

Nah ini kak lenny, kena candid lg ngajarin anak-anak PAUD tanjung batu neh…
Setelah menyenangkan anak-anak PAUD dan TK ini, segeralah kami beranjak ke SMPN 6 Berau, letaknya tak jauh dari lokasi balai desa. Anak-anak SMP sudah menanti kami, dan pada hari itu sebenarnya ada 2 kali ulangan harian, akan tetapi adanya kedatangan kami, maka pihak sekolah memutus untuk 1 ulangan saja. Berjalan lah kami menuju SMPN 6, begitu luasnya sekolah ini Hampir 2 Hektar loh. Sekolah yang sangat sederhana, kelas-kelas yang ada dipinggir dan ditengah adalah letak ruangan guru dan kepala sekolah. Sebelum itu, ada pengarahan dan penyambutan dari Bapak Kepala Sekolah SMPN 6 Berau, Bpk Mustaring.

Bersama Bpk Mustaring Kepsek SMPN 6 Berau dan Guru-Guru
Setelah penyerahan cendera mata kepada tim kami, maka kami bergegas menuju kelas masing. Saya menuju kelas IX A, dan yang ingin saya bagikan adalah ilmu pembangkit listrik, simpel saja “Bagaimana Listrik Sampai Di Rumah Kita”. Sengaja saya memberi tentang materi tersebut terkait keadaan di tanjung batu di mna listrik hanya menyala saat jam 6 sore hingga jam 6 pagi. Kurangnya fasilitas listrik yang memadai, membuat kebanyakan keluarga menggunakan genset jika memerlukaan listrik di siang hari. Bahkan si sekolahpun menggunakan genset saat jam belajar. Materi yang sampaikan ke kelas XI ini sangatlah sederhana, secara pengetahuan ini adalah dasar kelistrikan di Indonesia saja. Dan saya pun membawa bahan ajar berupa poster A3 gambar-gambar pembangkit di Indonesia. Hingga sampai saat sesi Tanya jawab.
“bapak, kenapa di tanjung batu tidak ada pembangkit besar seperti yang ada di gambar tersebut?” Tanya seorang murid
Nahhhhhhh…..

Saya bersama dengan anak kelas IX A, SMPN 6 Berau
Pertanyaan ini sudah saya duga akan muncul dari anak-anak dan ternyata benar. Saya pun menjawab dan menjelaskan agar anak-anak paham dan termotivasi agar belajar giat, supaya nantinya ingin desanya ini bisa menikmati listrik secara 24 jam, salah satunya adalah bisa menjadi sarjana teknik. Bahkan diluar dugaan ada juga yang menanyakan tentang pembangkit tenaga nuklir. Hal seperti inilah yang perlu anak-anak ketahui didaerah 3T, bahwa mereka pun juga sangat ingin menambah pengetahuan dan wawasan dari hal-hal yang bagi mereka masih menjadi tanda Tanya. Senang sekali, bisa berbagi dan memberi sedikit ilmu dengan mereka. Sekarang saya juga senang mempunyai murid, meskipun sehari dan meskipun itu jauh di sana. Antusias anak-anak bertanya saat saya memberi materi menjadikan motivasi tersendiri bagi saya, bahwa mengajar itu menyenangkan.
Beranjak dari kelas, saya menuju teman-teman lain yang masih memberi materi dan motivasi kepada anak-anak SMPN6, salah satunya kak tedi yang member materi di luar kelas, yakni di bawah pohon besar nan rindang. Jarang sekali kita temui suasana kelas seperti ini di sekolah di kota-kota besar. Melihat canda tawa dan semangat anak-anak mengikuti materi kak Tedi, saya pun mencoba berjalan disekitar sembari mengambil gambar dari anak-anak. Saat ketika anak-anak menulis cita-citanya di sebuah kertas, saya tertuju pada suatu anak yang polos, dan menulis nya pun dengan sangat ikhlas dan tidak banyak pikir, Adrian namanya.

Adrian dan Cita-citanya

Cita-Cita Saya
Dan meneteslah air mata ini, melihat seorang anak yang begitu mulianya cita-citanya, sederhana sekali, dia tidak ingin jadi apa dan siapa. Sewaktu saya bertanya
“Gak pengen cita-cita lain kah nak?”
“Tidak Bapak, ini sudah cukup”
Dan saya sempatkan foto tulisan Adrian tersebut, sejak dini, ia tanamkan pada dirinya pada cita-citanya menjadi birul walidain dan ilmunya ingin menjadi ilmu yang bermanfaat. Subhanallah….
Berganti ke kelas lain, yakni lebih tepatnya perpustakaan kecil, di sini Saudari Lenny mengajarkan anak-anak menulis. Dan mengajak mereka menulis sebuah curahan hati mereka ataupun pengalaman mereka. Dan saya pun sembari mengambil gambar dan tertuju pada seorang anak perempuan menulis di kolom lemari buku, dengan tulisan yang sangat bagus sekali dan rapi. Dan saya pun menyempatkan membaca sebentar, dan lagi-lagi membuat hati ini terenyuh. Dengan judul “Surat Untuk Pak Menteri”

Surat Buat Pak Menteri, karya Nur Shaira kelas 7, SMPN 6 Berau
Begitu polosnya dan jujurnya mereka mengungkapkan isi hati dan curahan hati mereka melalui sebuah tulisan. Tidak banyak meminta tidak banyak keinginan, sederhana sekali, mereka ingin pak menteri dating ke sekolah mereka. Semoga curahan hati mereka bisa tersampaikan.
Berganti tempat menuju Saudara iqbal yang santai mengajarkan anak-anak menggambar dan mengekspresikan diri melalu sebuah gambar bercerita. Melihat beberapa buah karya mereka, membuat diri ini senyum-senyum sendiri dengan cara mereka mengekspresikan dan menyampaikan suara hati mereka. Ternyata anak-anak ini sangat kreatif sekali, akan tetapi kurangnya sarana dan pengajar membuat mereka kurang mengekspresikan kreatifitas mereka. Beruntung adanya saudara Iqbal, sangat membantu sekali, dan terlihat sekali karya-karya kreatif dari anak-anak SMPN 6 Berau.

Fokus saat saudara mengajarkan materi komik bergambar
Komik Bergambar ini adalah karya anak SMPN 6berau, Isinya sangat menggelitik dan syarat akan pesan.
Hari ini saya mendapat pelajaran banyak, dan ini seharusnya dijadikan perlajaran juga bagi saya pribadi. Masih banyak yang harus diperbaiki, masih banyakyang harus dipelajari, dan masih banyak yang harus di contoh terutama dari anak-anak SMPN 6 ini. Menjadi guru selama 30 menit itu ternyata menyenangkan dan tidak mudah juga, menjawab pertanyaan anak-anak yang aktif dengan keingin tahuan mereka. Apalagi bagi mereka Guru-guru SM3T yang dengan sabar dan ikhlas mendidik dan menyayangi muridnya dengan tulus. Semoga rahmat dan selamat selalu terlimpahkan bagi guru-guru kita semua. Amiiinn
Sore menjelang senja, kami pun harus beranjak ke Pulau Maratua, di mana kami dinanti oleh anak-anak SDN 004 Maratua di keesokan harinya. Kami menyebrang menuju pulau maratua dengan Speed Boat, Perjalanan ditempuh 2-3 jam tergantung tingginya gelombang. Sore itu gelombang agak tinggi namun lukisan sang alam kembali menyapa kami selama perjalanan, sunset saat itu menemani kami hingga sampai di teluk alulu, Pulau Maratua, kami sudah ditunggu 4 guru SM3T dan bapak Kepala Sekolah SDN004 Maratua, Pak Agus Purwo. Dan kami pun langsung menuju rumah dinas guru tepat disamping rumah Bapak Agus. Hingga malam menyapa, kami mengobrol banyak dan berkenalan dengan warga, dan warga sekitar ikut menjamu dengan membakar ikan di depan rumah. Hari itu pun saya bisa beristirahat di salah satu Pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Philipina.

Bakar Ikan di depan rumah tinggal kami di Teluk Alulu, Maratua

#Day4

Udara sejuk sangat terasa sekali di pulau maratua ini, membuat diri ini tak sabar bertemu anak-anak SDN 004 Maratua. Berjalan 100 meter dari tempat kami tinggal menyusuri jalan setapak hingga sampai depan halaman sekolah, dan anak-anak berbaris rapi sembari bernyanyi.
Pagiku Cerahku Matahari bersinar kugendong tas merahku di pundak Selamat pagi semua kunantikan dirimu di depan kelasmu menantikan kami Guruku Tersayang Guru tercinta Tanpamu apa jadinya aku Tak bisa baca tulis Mengerti banyak hal Guruku terimakasihku Nyatanya diriku Kadang buatmu marah Namun segala ma’af Kau berikan
Dan tak kuat diri ini meneteskan air mata, belum pantas diri ini menerima sambutan yang sangat meriah ini. Anak-anak pun dengan ceria menyanyikan lagu tersebut dan saya pun sambil membawa kamera mengelilingi anak-anak, dan sempat beberapa kali mengusap air menetes di pipi. Karena sambutan seperti ini adalah sepantasnya untuk guru-guru mereka yang bertahun-tahun mengajar mereka dengan kasih sayang. Dan hingga di ujung lagu,dengan serentak anak-anak mengucapkan “Selamat Datang”. Huaaaaaaa…. Terima kasih nak….Makin terharu sekali….
Kemudian tak berhenti sampai di situ saja, anak-anak kembali mengajak kami untuk menari Dalling, tarian khas suku bajau. Enak juga nyanyian dari tari dalling ini, membuat suasana makin cair diantara kami dan anak-anak. Gerakannya sangat sederhana dan mudah untuk di hafal. Yihaaa….

Tari Dalling bersama anak-anak SDN 004 Maratua
Dan setelah itu bapak kepala sekolah pun menyambut kami, dan beliau menerima kami dengan keadaan “Inilah sekolah kami yang sangat sederhana” dan mengenalkan kami kepada anak-anak. Semakin semngat karena hari ini di SDN 004 Maratua akan kedatangan Bapak Dirjen DIKTI yakni Bapak Ali Ghufron Mukti, oleh karena itu berbagai persiapan sudah di matangkan sebelumnya. Tetapi tidak mengurangi waktu kami untuk berbagi dan menginspirasi kepada anak-anak ini. Hari ini anak-anak semua akan diberi dongeng dari Kak Tedi dan si Tatan (nama dari boneka orang utan hehe). Anak-anak sangat antusias dan sangat senang sekali, karena jarang sekali atau bahkan tidak pernah mereka diberi dongeng yang sangat menyenangkan.
Oh ya, di SDN 004 Maratua ini ada 2 orang Guru SM3T yang sedang mengabdi dan baru 4 bulan berada di sini dan juga ada 2 orang guru SM3T dari SDN 001 Maratua ikut datang menyambut kami, karena letak sekolah SDN 001 ada di kampung payung-payung, bukan di teluk alulu atau tepatnya kampung sebelah. Mereka inilah yang memberikan warna baru bagi pendidikan di daerah 3T. Kebetulan keempat guru yang ditempatkan di pulau maratua semuanya adalah perempuan.

Dongeng si Tatan oleh Kak Tedi dengan anak-anak SDN 004 Maratua
Sampai menjelang siang, anak-anak pun istirahat dan anak-anak diberi makanan nasi kotak. Karena jam sekolah biasanya sampai jam 12 siang, tapi rasa antusias untuk menyambut bapak Dirjen DIKTI membuat anak-anak masih betah di sekolah. Di saat anak-anak menikmati makan siangnya, saat itu jam 11 siang, saya menyempatkan diri untuk bisa mengobrol banyak dengan anak-anak. Saya pun bertanya pada seorang anak karena nasi kotaknya disisakan separuh dan ditutup kembali.
“gak kamu habiskan nak nasinya?”
“tidak bapak, buat makan nanti di rumah”

Makan siang anak-anak SDN 004 Maratua
Entah saya harus mengeluarkan kata-kata apa lagi, diam sejenak melihat cerianya mereka, tawa mereka, dengan polosnya mereka menjawab seperti itu. Mereka masih menyempatkan dan menyimpan apa yang mereka dapatkan hari itu. Meskipun hanya sebuah kotak nasi dengan mie dan separuh telur bulat. Rasa syukur atas nikmat yang mereka dapat sangat jauh sekali dari saya yang tiap hari mendapatkan dan menikmati segala hal yang ada. Mata saya dibuat berkaca-kaca lagi oleh tawa canda anak-anak SDN 004 maratua saat itu. Semoga anak-anak ini selalu diberi keceriaan, kepandaian dan nikmat syukur dariMu ya Allah. Amiiinnn
Siang itu menjelang pukul 2 siang, kami dan anak-anak SDN 004 Maratua sudah bersiap menyambut bapak Dirjen DIKTI. Dan Saat terlihat rombongan Bapak Dirjen datang, anak-anak dengan ramai menyambut dan mendekati rombongan. Dengan menyanyikan “Selamat Datang bapak… Selamat Datang Bapak… Selamat Datang kami Ucapkan”, sambil bersaliman satu persatu, tak menghiraukan terik panas matahari saat itu rombongan pun disambut oleh tarian khas Bajau yakni Tari Dalling. Dengan anak-anak lain mengikuti tarian ini, mengajak Bapak Dirjen dan Rombongan menirukan gaya Tari Dalling.

Antusias Anak-anak menyambut Bapak Direjen DIKTI

Beramai-ramai ikut tari dalling bersama anak-anak SDN 004 Maratua
Sungguh sangat meriah dan menyenangkan sekali. Setelah itu anak-anak pun kembali berkumpul di dalam ruangan, ibu-ibu warga sekitar pun ikut meramaikan juga. Sambutan demi sambutan pun berjalan dan dipandu oleh guru-guru SM3T dan tim #menyapanegeriku, mengenalkan dengan anak-anak SDN 004 Maratua ini. Hingga bapak DIrjen pun berdialog dengan anak-anak melalui dongeng interaktif dengan Kak Tedi. Wah… Ternyata Bapak Dirjen berbakat juga ya untuk mendongeng tidak mau kalah dengan Kak Tedi. Beberapa kali beliau bertanya bahkan bertanya juga dalam bahasa inggris, anak-anak SDN 004 Maratua ini tak canggung langsung menjawabnya
“Are You Happy ?” Tanya Bapak Dirjen
“Happyyyyy” Seru dengan Lantang Anak-anak SDN 004 Maratua
Pertanyaan demi pertanyaan pun dilontarkan kepada anak-anak sampai soal cita-cita mereka yang sangat beragam, paling tidak adanya guru SM3T di sini membuka wawasan baru dan menuntun pelan-pelan. Di mana tak hanya ingin menjadi nelayan atau nahkoda kapal, mereka bisa menyebutkan cita-cita mereka yang beragam, dokter,guru, polisi, tentara, bahkan angkasawan pun. Sepertinya hari itu mereka bisa banyak tersenyum, menikmati kegiatan yang beragam dari kami. Tapi bagi kami senyuman mereka menjadi suatu pengingat, menjadi suatu pengikat, dan menjadi suatu penanda, bahwa di kampung di pulau terluar sana anak-anak menunggu dan siap menggantikan kita nanti. Tentunya menjadi anak yang berakhlak, bermoral, berbangsa dan bermanfaat tentunya bagi orang banyak. Amiiin

Berfoto Bersama yeeeeeee…
Sore hari menjelang, rombongan Bapak Dirjen meninggalkan SDN 004 Maratua dan langsung bertolak ke Tanjung Redeb, Kab Berau. Terima Kasih bapak, semoga bapak juga merasakan yang kami rasakan di sini dengan anak-anak meskipun hanya 2 jam, dan meskipun kami beberapa hari saja.
Setelah melepas bapak dirjen, di pinggir dermaga teluk alulu, saya menyempatkan banyak mengobrol dan bertanya kepada keempat ibu guru SM3T angkatan V di sini. Disitulah saya banyak belajar dari mereka, banyak banget, keempat wondewoman lulusan UNM (Universitas Negeri Makasar) ini mengungkapkan pengalamannya selam 4 bulan di sini dengan lingkungan yang jauh dari keluarga, menghadapi anak-anak yang dengan beragam karakternya, menghadapi problematika di kampung teluk alulu yakni air bersih, bahkan pengalaman-pengalaman unik selama penempatan di pulau maratua. Obrolan kami ditemani sunset yang sangat indah, hingga adzan maghrib berkumandang maka saya pun kembali ke tempat tinggal dan katanya malam ini ada perpisahan dengan guru-guru SDN 004.

#Day5

Sepagi mungkin kami bersiap diri, karena hari ini mungkin juga hal yang tidak akan terlewatkan. Ya… hari ini kami akan berkunjung ke beberapa tempat wisata yakni Maratua Paradise, Pulau Kakaban, Pulau Sangkalaki dan di tutup di Pulau Derawan. Yak, kami dihantarkan ke dermaga oleh bapak kepsek, pak agus dan juga ke empat guru-guru SM3T. Mungkin dalam hati ini berdoa, semoga kami bisa berkunjung ke tempat ini lagi, ke taman bermain bagi anak-anak maratua, tempat belajar bagi mereka yang ada di pulau terluar Indonesia ini.
Da…. Da…. Da…. Sayonara…. Beranjaklah kami dan destinasi pertama kami yakni Paradise Maratua, Kondisi angin saat itu cukup kencang dan membuat gelombang cukup tinggi. Tapi kata motorise (sebutan supir speed boat) kami optimis dengan menyusuri di pinggir pulau. Beberapa menit meningglakan dermaga, kami disambut oleh pelangi yang indah. Ya Allah, syukur atas nikmatMu masih bisa menikmati lukisan indahMu…. Tetapi…. Sesaat setelah itu… Suasana menjadi tegang saat speed kami mengenai sebuah karang sampai salah satu motor terangkat ke atas. Deg Deg Deg…. Ya Allah apalagi cobaan yang kau berikan… dan setelah membenahi motor kami melanjutkan perjalanan. Hati kecil ini merasakan sesuatu yang tidak beres… sambil memandangi di belakang… dan terlihat kami melewati sebuah karang… dan setelah dilewati kapal air tersebut keruh. Tidak begitu lama… Air laut masuk sedikit demi sedikit ke dalam badan speed boat kami. Dan inilah mungkin akhir hidup saya… apakah saya ditakdirkan sampai di sini saja.. karena saya memikirkan juga calon istri saya di sana (aseekk)… langsung tanpa berpikir lama, Pak Dauri, guide kami yang juga pemilik speed memutuskan untuk balik ke dermaga terdekat untuk tukar speed… Ya Allah semoga tidak terjadi apa-apa… dan tibalah kami di dermaga Bohei Silian, masih tetangga dengan teluk alulu. Kami bertukar speed dan pak dauri tetap memprioritaskan kami untuk bisa berwisata. Dan berangkatlah kembali kami dengan berhati-hati… dan dimulailah wisata kami. Seperti ini…. Biar Foto yang berbicara ya…

Ubur-ubur Pulau Kakaban

Ubur-ubur Pulau Kakaban ini Tidak Menyengat Loh

Keindahan Bawah Laut Pulau Derawan

Keindahan Bawah Laut Pulau Derawan

Pulau Derawan

Pulau Sangkalaki
Hingga akhir tujuan wisata kami yakni pulau derawan… di sini kami snorkeling dan diving di perairan yang cukup dangkal, di situ kami sudah bisa menikmati keindahan bawah laut… nemo dan kawan-kawan hehe. Hingga menjelang senja, saatnya kami kembali ke tanjung batu dan kami harus menginap semalam. Dalam perjalanan ke tanjung batu masih saja kami menikmati indahnya sunset…. Subhanallah…. Hingga tiba di tanjung batu, dan malam hari kami makan malam terakhir ditanjung batu sembari perpisahan dengan pemilik rumah…. Lagi-lagi disuguhkan makanan laut… yakni ikan putih… dengan berbagai macam olahan andalan masyarakt tanjung batu. Malam itu bagi kami terasa cepat, karena esok pagi kami sudah kembali ke kota masing-masing

#Day6

Pagi sedikit berawan, sang surya tertutup awan… tetapi tak mengurangi indahnya sunrise di tanjung batu. Sebelum kami pulang, kami masih sempat sarapan nasi kuning. Dan setelah itu kami harus bergegas ke tanjung redeb, karena penerbangan kami pukul 11 siang. Kami berpamitan dengan pemilik rumah…. Dengan mamak dan bapak juga kakek nenek… saat berpamitan kami dipeluk satu persatu oleh sang nenek yang saat ini masih dalam penyembuhan dari stroke. Dengan memeluk “Nak, Berangkat sudah kamu nak.. jangan lupakan nenek ya nak… mampirlah ke sini jika kau main lagi”. Berngkatlah kami menuju tanjung redeb. Di bandara kalimarau kami pun sempat berpisah dengan beberapa kawan kami…
Alhamdulillah, berakhir sudah program #MenyapaNegeriku , 5 hari yang tak akan terlupa, berpetualang, berbagi dan berinspirasi… menemukan mutiara indah di pulau terluar di Indonesia… belajar banyak dengan guru-guru di sana dan guru-guru SM3T yang masih bertugas. Memang benar hadits yang selama ini menjadi pedoman hidup saya…
“Khoirunnasi waanfaahum linnas”
Mereka lah yang sesungguhnya benar-benar menerapkan ini, masih jauh dengan saya yang hanya tau sebuah hadits tapi terkadang masih sulit untuk menerapkannya.
Bermimpilah Nak
Bercita-cita lah Nak
Belajarlah Nak
Bermainlah Nak
Karena harapan kami, kalian bisa lebih hebat, lebih cerdas, lebih pintar dan lebih bermanfaat dari kami.
Tanjung Batu & Pulau Maratua, Kab Berau, Kalimantan Timur
1-6 Desember 2015

Berjuang atau Pulang Saja !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *